Dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan 2025, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar acara Panggung Seni Budaya Nusantara di halaman Museum Serangan Umum 1 Maret, Kota Yogyakarta. (sumber:ANTARA/HO-Kementerian)Kebudayaan)

Jakarta, Harian PosMetro – Kota Semarang kembali menjadi panggung seni budaya yang meriah. Festival Wayang Semesta 2025 hadir membawa napas baru bagi dunia pewayangan, dengan menghadirkan kolaborasi antara dalang tradisional dan seniman muda yang bereksperimen lewat teknologi digital.
Di tengah ramainya Simpang Lima, suara gamelan berpadu dengan dentuman musik elektronik terdengar dari panggung besar yang dipenuhi penonton. Itulah suasana pembukaan Festival Wayang Semesta 2025, ajang yang memadukan pertunjukan wayang tradisional dan kreasi kontemporer selama tiga hari penuh, mulai 14 hingga 16 November.
Festival ini digagas oleh Dinas Kebudayaan Kota Semarang sebagai upaya menghidupkan kembali semangat pewayangan di era digital. Tak hanya wayang kulit klasik, pengunjung juga disuguhi “Wayang Digital”, pementasan yang memadukan bayangan wayang dengan projection mapping dan musik elektronik.
“Wayang bukan hanya milik masa lalu. Ia harus terus bercerita dengan cara baru agar tetap dekat dengan generasi muda,” ujar Wakil Wali Kota Semarang, dalam sambutannya di malam pembukaan.
Tak kurang dari 15 komunitas seni dari berbagai daerah ikut serta dalam perhelatan ini — mulai dari Yogyakarta, Surabaya, Kalimantan, hingga Sulawesi. Mereka membawa versi khas daerah masing-masing, menghadirkan suasana lintas budaya yang penuh warna.
Selain pertunjukan, festival juga menggelar workshop menggambar tokoh wayang, membatik, dan diskusi “Wayang Talk” yang mempertemukan dalang senior dengan seniman muda. Tujuannya sederhana: memperkenalkan kembali filosofi pewayangan sebagai seni yang hidup, bukan sekadar benda koleksi.
Bagi masyarakat, festival ini bukan hanya hiburan, tapi juga ruang belajar dan refleksi. Seorang pengunjung muda, Rani (22), mengatakan, “Ternyata wayang bisa sekeren ini. Dulu aku pikir hanya cerita kuno, tapi sekarang terasa relevan banget.”
Melalui Festival Wayang Semesta, Semarang ingin menunjukkan bahwa tradisi tak harus kaku. Ia bisa beradaptasi, bertransformasi, dan terus memikat hati penontonnya, tanpa kehilangan akar budaya. mnp
