Foto: Istimewa.
Dalam pampflet yang dibentangkan, massa menyerukan “Tutup Freeport, Papua Bukan Tanah Kosong“.
Seorang peserta aksi yang mengenakan almamater biru menyampaikan orasinya. Ia menekankan pentingnya persatuan seluruh elemen masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.
NABIRE, HARIAN POSMETRO.com || Nabire mulai memanas! Sejumlah mahasiswa, pelajar, masyarakat, serta berbagai elemen yang tergabung dalam Front Rakyat Papua melakukan aksi demo di Kota Nabire, Papua Tengah pada Selasa (7/4/2026).
Berbagai isu strategis disuarakan, mulai dari persoalan buruh, lingkungan, masyarakat adat, hingga kondisi rakyat kecil. Massa aksi menyoroti PT Freeport, MRP dan pengembalian Otonomi Khusus (Otsus), serta hak menentukan nasib sendiri.
Dilansir seputarpapua.com dalam orasi yang berlangsung di titik kumpul Pasar Karang Tumaritis, di tengah ratusan massa aksi Wegobi Pigai, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk kekecewaan dan perlawanan terhadap berbagai kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada rakyat Papua.
Ia menegaskan bahwa kehadiran PT Freeport belum sepenuhnya memberikan keadilan yang merata bagi masyarakat lokal, terutama dalam aspek kesejahteraan dan lingkungan hidup.
“Kami turun hari ini untuk menyuarakan bahwa tanah ini adalah milik kami. 59 tahun sudah Freeport hadir, tetapi rakyat masih hidup dalam kesulitan. Kami minta keadilan, kami minta hak kami dikembalikan,” tegasnya dalam orasi.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa berbagai kebijakan yang diambil selama ini belum sepenuhnya melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat. Menurutnya, suara masyarakat lokal sering kali terabaikan dalam pengambilan keputusan penting.
Ia juga menekankan bahwa persoalan lingkungan menjadi salah satu dampak serius yang dirasakan masyarakat, mulai dari kerusakan alam, hingga berkurangnya sumber penghidupan warga di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Selain itu, Marselino menyampaikan bahwa generasi muda Papua harus berani bersuara dan mengambil peran dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat, agar ke depan tidak terus berada dalam situasi yang sama.
Ia berharap pemerintah dapat membuka ruang dialog yang adil dan jujur dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, guna mencari solusi yang berkeadilan bagi semua pihak.
Dalam kesempatan yang sama, seorang peserta aksi yang mengenakan almamater biru juga menyampaikan orasinya. Ia menekankan pentingnya persatuan seluruh elemen masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Papua.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak tinggal diam terhadap berbagai persoalan yang terjadi.
“Sebagai mahasiswa, kami punya tanggung jawab moral untuk bersuara. Kita tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan. Persatuan adalah kekuatan kita untuk memperjuangkan perubahan,” ujarnya.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan tertib, dengan massa aksi bergerak menuju Kantor DPR Papua Tengah sebagai titik penyampaian aspirasi.Redaksi•
