Oleh: Naek Pangaribuan, Wartawan Senior, Pemerhati Hukum dan Pers
Jakarta dituntut melakukan transformasi besar dari kota administrasi menjadi kota bisnis global, pusat jasa, keuangan, perdagangan, pendidikan, dan budaya.
Kota global (global city atau kota dunia) adalah pusat perkotaan utama yang memegang kendali penting dalam sistem ekonomi, politik, dan budaya global. Kota-kota ini berfungsi sebagai simpul utama dalam jaringan transnasional yang menarik modal, investasi, teknologi, sumber daya manusia, dan inovasi berskala internasional.
|| PIDATO Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada peringatan HUT ke-499 Jakarta di Monas, pada Senin 22 Juni 2026 pagi mengandung pesan yang kuat, dimana warga diminta untuk tidak kehilangan optimisme terhadap masa depan Jakarta. Pesan tersebut tentu patut diapresiasi, karena optimisme merupakan modal sosial yang penting dalam pembangunan sebuah kota megapolitan.
Namun, optimisme tidak cukup dibangun melalui pidato dan angka-angka statistik semata. Optimisme warga harus lahir dari pengalaman nyata sehari-hari ketika berhadapan dengan berbagai persoalan perkotaan yang masih membelenggu Jakarta.
Memang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki sejumlah capaian yang layak dicatat. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,59 persen, investasi menyentuh Rp270 triliun pada triwulan pertama 2026, serta berbagai program sosial seperti KJP, KJMU, Pasukan Putih, dan transportasi gratis terus berjalan. Data tersebut menunjukkan bahwa mesin pemerintahan bergerak dan program pembangunan tetap berlangsung.
Akan tetapi, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah manfaat pertumbuhan ekonomi tersebut sudah dirasakan secara merata oleh seluruh warga Jakarta?
Di tengah tingginya investasi, biaya hidup di Jakarta terus meningkat. Harga hunian semakin sulit dijangkau kelompok menengah dan bawah. Kemacetan masih menjadi momok meski berbagai moda transportasi massal telah dibangun. Banjir yang berulang di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa persoalan tata ruang dan lingkungan belum sepenuhnya teratasi. Sementara itu, kesenjangan sosial antara kawasan elite dan permukiman padat masih terlihat nyata.
Jakarta juga menghadapi tantangan baru setelah tidak lagi menjadi pusat pemerintahan nasional secara penuh seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Dalam kondisi tersebut, Jakarta dituntut melakukan transformasi besar dari kota administrasi menjadi kota bisnis global, pusat jasa, keuangan, perdagangan, pendidikan, dan budaya.
Transformasi ini tidak mudah. Banyak kota besar di dunia gagal beradaptasi ketika kehilangan sebagian fungsi politiknya. Karena itu, Jakarta harus memiliki visi yang lebih konkret dibanding sekadar slogan optimisme. Masyarakat membutuhkan peta jalan yang jelas mengenai bagaimana Jakarta akan bersaing dengan kota-kota regional seperti Singapore, Kuala Lumpur, atau Bangkok.
Pernyataan gubernur mengenai penyelesaian masalah sampah juga menarik dicermati. Mengajak warga memilah sampah dari rumah tangga merupakan langkah baik, tetapi tidak cukup jika tidak dibarengi reformasi sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Masalah sampah Jakarta bukan hanya persoalan perilaku masyarakat, melainkan juga persoalan infrastruktur, teknologi pengolahan, serta tata kelola yang selama bertahun-tahun belum tuntas.
Hal yang sama berlaku untuk transportasi publik. Pembangunan MRT, LRT, dan integrasi antarmoda patut diapresiasi. Namun, tantangan sebenarnya adalah membuat masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi. Selama akses transportasi umum belum benar-benar nyaman, aman, tepat waktu, dan menjangkau seluruh wilayah penyangga, kemacetan akan tetap menjadi penyakit kronis Jakarta.
Pada usia ke-499 tahun, Jakarta memang memiliki banyak alasan untuk optimistis. Kota ini telah melewati berbagai krisis politik, ekonomi, pandemi, hingga perubahan kepemimpinan nasional. Namun optimisme yang sehat harus dibarengi sikap kritis. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap capaian statistik benar-benar bertransformasi menjadi peningkatan kualitas hidup warga.
Menjelang usia lima abad pada tahun depan, ukuran keberhasilan Jakarta bukan lagi sekadar pertumbuhan ekonomi atau besarnya investasi. Yang lebih penting adalah apakah warga merasakan kota yang lebih adil, lebih nyaman dihuni, lebih bersih, lebih aman, dan memberikan kesempatan yang setara bagi semua lapisan masyarakat.
Jakarta tidak membutuhkan optimisme yang kosong. Jakarta membutuhkan optimisme yang dibangun di atas hasil nyata. Karena pada akhirnya, kota yang besar bukan diukur dari gedung pencakar langitnya, melainkan dari seberapa sejahtera dan bahagia warganya.
Selamat HUT ke-499 Kota Jakarta!
[Jakarta, 24 Juni 2026/®redaksi harian posmetro.com]
