JAKARTA, Harianposmetro.com- MonoPlay Festival 2026 menghadirkan seni pertunjukan monolog yang mempertemukan lakon dan akting dalam satu panggung. Festival dengan tema “Lakon@cting” ini berlangsung pada 23–25 September 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
MonoPlay Festival 2026 menjadi ruang bagi para aktor untuk mengeksplorasi berbagai perspektif dalam seni peran, mulai dari persoalan perempuan, kesehatan mental, kehilangan identitas, hingga isu perdagangan orang.
Festival ini dikembangkan melalui kolaborasi empat direktur, yakni Teuku Rifnu Wikana sebagai Direktur Festival, Krisna Aditya sebagai Direktur Artistik, Aida Fuady sebagai Direktur Program, dan Ronny Marchiano sebagai Direktur Teknis.
Teuku Rifnu Wikana mengatakan MonoPlay Festival menjadi medium untuk melihat bagaimana sebuah teks dibaca, ditafsirkan, kemudian dihidupkan melalui tubuh, suara, imajinasi, serta kehadiran seorang aktor.
“Saya melihat MonoPlay sebagai ruang yang mempertemukan para aktor dalam sebuah pengalaman artistik. MonoPlay Festival adalah ruang perjumpaan para aktor,” ungkapnya, pada Selasa, 22 September 2026 di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
MonoPlay Festival 2026 menghadirkan enam aktor dan karya dengan perspektif yang beragam. Kimberly Ryder tampil melalui Aku Masih Di Sini, Rahayu Saraswati melalui Kalau Bukan Aku, Sigit Hardadi melalui Jadi Diri Sendiri, Bagus Ade Saputra melalui Brain Rot, serta Tegar Bramanastrya melalui Saweran. Festival ini juga menghadirkan Yeliz Čelebić sebagai tamu internasional.
Angkat Persoalan Perempuan
Kimberly Ryder mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi perempuan ketika menjalani peran sebagai ibu maupun istri melalui pertunjukan Aku Masih Di Sini.
Ekspektasi sosial dan budaya, kesehatan mental, hingga kehilangan identitas menjadi bagian dari cerita yang dibawakannya.
Kimberly menegaskan monolog tersebut bukan kisah hidupnya. Cerita dirangkai dari berbagai pengalaman dan cerita orang-orang di lingkaran sekitarnya.
“Sejujurnya ini It’s not a life story. Banyak cerita dari circle aku, dari Mas Rifnu, Mas Ari, dan segala macam yang akhirnya digabungkan ke satu karya ini,” ungkap Kimberly.
Ibu dua anak ini mengaku mendapat tawaran dari Teuku Rifnu Wikana selaku aktor sekaligus Direktur Festival MonoPlay 2026 untuk bergabung pada awal September.
Proses brainstorming dilakukan dalam waktu singkat hingga akhirnya tema perempuan dan berbagai persoalan yang mengikutinya dipilih.
“Pokoknya semua yang kami lewati yang mungkin sangat relatable dengan ibu-ibu dan istri-istri di zaman sekarang ini,” lanjut Kimberly.
Kimberly Hadapi Tantangan Monolog
Bagi Kimberly, tampil di panggung memiliki tantangan berbeda dibandingkan bermain film.
Ia pernah mempelajari performing arts di London dan lulus pada 2018, termasuk teater dan Shakespeare, sebelum mengambil pendidikan master di bidang screen acting.
“Kalau aku, kesulitannya harus mempelajari satu skrip monolog berapa belas lembar sendiri. Itu harus diingat semua. Itu aja sih sebenarnya. Selain dari itu, kayaknya kalau sudah ingat semuanya, insyaallah lancar. Beda banget dengan Shakespeare, ini cuma persiapannya ya rehearsal selama hampir seminggu ini jadinya. Hampir seminggu rehearsalnya. Terus ya langsung baru mulai hari Minggu kemarin. Jadi nggak sampai seminggu sih,” lanjut Kimberly.
Bawa Isu Perdagangan Orang
Sementara itu, Rahayu Saraswati hadir melalui Kalau Bukan Aku. Kesempatan tampil dalam format monolog menjadi ruang bagi Rahayu untuk mengeksplorasi seni peran sekaligus menyampaikan pesan tentang perdagangan orang.
“Gagasan Kalau Bukan Aku telah lama berada dalam pikiranku, bahkan sebelum mendapat ruang untuk membawakannya di MonoPlay Festival 2026 ini. Sangat bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari MonoPlay Festival. Karena kita diberikan ruang untuk menjadi apa pun yang kita inginkan,” papar Rahayu Saraswati.
Kalau Bukan Aku menjadi lakon yang digunakan Rahayu untuk menyampaikan isu perdagangan orang melalui karakter dan pengalaman manusia, tanpa menjadikannya seperti sebuah ceramah.
Pilihan isu perdagangan orang memiliki kedekatan dengan perjalanan advokasi Rahayu. Ia telah terlibat sebagai aktivis anti perdagangan manusia sejak 2009.
Namun, Rahayu tidak ingin menjadikan panggung sekadar sebagai ruang untuk menyampaikan data dan kecemasan. Ia memilih membawa persoalan tersebut melalui karakter dan pengalaman manusia.
“Melalui seni saya mau mengangkat isu ini dalam konteks yang nggak terlalu berat. Ini memberikan ruang dan panggung untuk suara yang hampir nggak pernah kita dengar. Kalau Bukan Aku’ memang konteksnya saya memberikan ruang untuk suara yang memang tidak atau jarang sekali kita dengar, yaitu keluarga dan korban. Dan dalam hal ini, pertanyaannya adalah, kalau bukan aku, ada nggak sih orang lain? Atau bahkan misalnya, siapa nih yang berikutnya kalau bukan aku,” katanya, lagi.
MonoPlay Festival 2026 Hadirkan Program Pendukung
Selain pertunjukan monolog, MonoPlay Festival 2026 juga menghadirkan sejumlah program pendukung, yakni Kelas Lakon@cting, Pameran Lukisan Solo dari Idol Daeng, dan Ngobrol Bareng Aktor.
Program tersebut membuka ruang pembelajaran dan percakapan mengenai proses pemeranan, pengalaman aktor, serta hubungan antara lakon dan tubuh.
Melalui tema “Lakon@cting”, MonoPlay Festival 2026 tidak bermaksud mencari satu definisi tentang aktor.
Festival ini justru menghadirkan berbagai kemungkinan bagi seorang aktor dalam membaca, menafsirkan, dan menghidupkan sebuah lakon melalui pengalaman artistik yang beragam.
