Ketika desanya terdampak banjir bandang dan akses darat terputus akibat longsor dan timbunan material, Marlina mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia berjalan kaki menembus hutan dari desanya menuju Kota Pandan, Sibolga, untuk mencari bantuan bagi warga. Tentu perjalanan itu bukan soal jarak, tetapi soal tekad untuk memastikan pertolongan bisa datang secepat mungkin.
|| ITULAH sosok wanita hebat dan pemberani, dengan nama lengkap Marlina Wiguna Lumban Tobing. Ia muncul menjadi wanita perkasa saat bencana alam melanda Sibolga, Sumatera Utara, menjelang awal Desember kelabu di penghujung tahun 2205.
“Ia (Marlina-red) memang benar-benar wanita tangguh. Saya yang hadir di sana sebagai pewarta CNN Indonesia, saya sudah ketemu beliau langsung (ibu Marlina-red) di lokasi bencana. Sebagai istri seorang polisi, ibu Marlina itu penuh tanggungjawab, termasuk dalam hal bantuan kemanusiaan korban bencana alam di kampungnya. Bahkan sebagai ibu Bhayangkari, Marlina bagaikan sinar tauladan yang layak diberi apresiasi dan penghargaan, oleh Kapolda Sumatera Utara,” ucap Budi Haryanto Tanjung alias Butan, yang akrab disapa Budi, kepada HARIAN POSMETRO. com, Rabu (10/12/2025) malam.
Budi Tanjung yang juga berprofesi sebagai Jurnalis CNN Indonesia itu, menilai perjuangan Marlina itu datang dari semangat tanpa pamrih dan hati yang tulus. Itulah kemudian yang membawanya bertemu dengan unsur TNI, Polri, dan pihak terkait yang sedang mempersiapkan misi bantuan menggunakan helikopter menuju lokasi bencana terpencil dan terisolir.
Gayung pun bersambut,
Marlina ikut serta, bukan sebagai penumpang biasa, tetapi sebagai pemandu menuju Desa Bonandolok, salah satu desa yang paling terisolasi akibat bencana.
Di desa itu, cerita Budi Tanjung, ibu Marlina sempat bertemu dengan keluarganya. Peluk cium dan baku rangkul pun dilampaiaskan sebagai ungkapan rasa rindu.
Namun, pertemuan itu pun berlangsung singkat. Sitasi dan suasana berubah menjadi sedih dan hening, ketika Marlina mendengar kabar dan mengetahui ada keluarganya yang meninggal. Yakni seorang ibu dengan tiga orang anak. Sontak saja ia kaget! Tangis wanita tangguh dan pemberani itu pun tak terelakkan. Seketika ia terlihat lunglai.
Tapi sebagai bentuk simbol rasa peduli, keteguhan tekad dan ketauladan, Marlina begitu bertanggung jawab pada bantuan kemanusiaan. Tanpa banyak kata, fokus utamanya tetap pada misi, memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga desa yang menanti dan membutuhkan.
“Saya melihat langsung bagaimana ibu Marlina itu terjun ke lokasi medan cukup sulit dan terisolir. Dan saya sudah melakukan wawancara juga dengan beliau (ibu Marlina-red). Ia memang terlahir sebagai sosok wanita perkasa dan mempunyai karakter yang kuat. Dalam situasi darurat, ia hadir sebagai jembatan antara warga dan aparat, membawa informasi, menunjukkan lokasi, dan membantu proses distribusi bantuan dengan tenang dan terukur,” ungkap Budi Tanjung.
Bahkan, lanjut Budi Tanjung lagi, sosok ibu Marlina dalam misi kemanusiaan itu, ia seolah terlihat telah mengabaikan keselamatan jiwanya, meski berada di lokasi yang sangat berisiko, demi menyelamatkan jiwa manusia.
“Atas perjuangan dan ketangguhannya itulah, saya berharap, ibu Marlina layak diberi apresiasi dan penghargaan sebagai pahlawan wanita,” pinta Budi Tanjung.
Selain itu, Budi Tanjung juga berharap agar aparat Bupati dan Polres Tapanuli Tengah, segera membantu dan mengevakuasi korban bencana longsor dan banjir bandang. Dalam pengamatannya di lokasi, masih banyak korban belum ditemukan di antara tumpukan puing kayu gelondongan dan lereng-lereng terjal yang masih tertimbun material tanah longsor.
Di akhir penutup, tugas liputan di Sibolga dan Tapanuli Tengah, Budi Tanjung, sudah berada di Kuala Namu, untuk kemudian bertolak ke Banda Aceh. Ia juga menyampaikan turut berduka dan prihatin atas musibah bencana alam yang menimpa warga di Sibolga, Sumut, Sumbar dan Aceh.
[Kuala Namu, Rabu, 10 Desember 2025®harianposmetro.com/01]
