Jakarta – Kisah kehilangan dan refleksi perjalanan hidup menjadi benang merah dalam buku Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan karya Mayjen TNI Nugraha Gumilar yang diluncurkan di Gedung Universitas Pertahanan (Unhan), Jakarta, Jumat (27/1/2026).
Dalam buku tersebut, Nugraha menceritakan salah satu fase paling berat dalam hidupnya, yakni peristiwa pada 23 Januari 1980, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-12. Saat itu, ia masih sempat merayakan hari lahir bersama kedua orang tuanya, sebelum kemudian kehilangan kontak dengan mereka dalam waktu singkat.
“Rasanya seperti dunia tergoncang. Tidak ada sakit, tidak ada persiapan apa pun. Dari situ saya belajar bahwa manusia itu saling membutuhkan,” ungkap Nugraha.
Peristiwa tersebut, kata dia, sempat membuatnya kehilangan arah. Namun dari titik terendah itu, ia mulai memahami arti kebersamaan, solidaritas, serta pentingnya peran orang lain dalam membentuk kembali jalan hidupnya.

Nugraha meyakini bahwa manusia tidak pernah berjalan sendirian dalam menghadapi kehidupan. Menurutnya, selalu ada jalan keluar yang dibukakan Tuhan melalui perantara orang-orang di sekitar.
“Saya meyakini selalu ada orang lain yang membantu. Kesulitan itu, tanpa disadari, selalu ada jalan yang terbuka melalui orang-orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pandangannya mengenai kepemimpinan, yang menurutnya tidak hanya bertumpu pada peran pimpinan, tetapi juga kontribusi seluruh anggota dalam organisasi.
“Sebuah satuan tidak berdiri karena satu orang, melainkan karena peran bersama. Anggota perlu didukung agar dapat berbuat maksimal di setiap tugas,” pungkasnya. (AS/AA)
