Warga Beutong Kabupaten Nagan Raya, Aceh, masih berada di bawah tenda pengungsian. Mereka terpaksa merayakan lebaran Idul Fitri 1447H di bawah tenda darurat. Foto: Istimewa.
“Sulit menyebut ini sebagai hari kemenangan. Ketika masyarakat lain bersuka cita, warga Beutong Ateuh masih bertahan di pengungsian.”
|| SEJUMLAH warga Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, terpaksa merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di tenda pengungsian akibat lambatnya proses pemulihan pascabencana yang menghancurkan permukiman mereka beberapa bulan lalu.
Dilansir AJNN (Aceh Journal National Network), Direktur Yayasan Apel Green Aceh, Rahmat Syukur, menilai pemerintah belum maksimal dalam memprioritaskan pemenuhan hak dasar warga terdampak. Ia menyebutkan kondisi tersebut mencerminkan belum optimalnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Sulit menyebut ini sebagai hari kemenangan. Ketika masyarakat lain bersuka cita, warga Beutong Ateuh masih bertahan di pengungsian,” kata Syukur di Suka Makmur, Kamis, 19 Maret 2026.
Menurut dia, hingga kini warga masih menghadapi ketidakpastian terkait hunian tetap maupun sementara. Kondisi tersebut membuat sebagian penyintas tetap bertahan di tenda darurat.
Ia juga menyoroti pembangunan hunian sementara (huntara) yang dinilai berjalan lambat. Selain itu, sejumlah unit huntara yang telah dibangun disebut belum memenuhi standar kelayakan.
“Sebagian warga memilih tetap di tenda karena huntara yang tersedia belum layak ditempati,” katanya.
Yayasan Apel Green Aceh mendesak pemerintah segera mempercepat pemulihan, termasuk memastikan ketersediaan hunian yang layak bagi warga terdampak.
Syukur menegaskan, penanganan bencana tidak cukup berhenti pada bantuan darurat, melainkan harus berorientasi pada pemulihan jangka panjang.
“Pemulihan harus benar-benar memastikan masyarakat pulih dan dapat kembali menjalani kehidupan secara layak,” ujarnya.*
[Nagan Raya-Aceh, Maret 2026/®harian posmetro.com]
