JAKARTA, Harian Posmetro – Film horor tak sekadar menghadirkan teror dan ketegangan. Kekayaan budaya lokal juga dapat menjadi kekuatan cerita yang membedakan sebuah film dari karya sejenis. Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Let’s Talk to Horror” yang digelar PAS Production berkolaborasi dengan Festival Film Horor (FFH), Minggu (25/10).
Diskusi yang menjadi bagian dari Festival Film Horor (FFH) edisi ke-11 ini mengangkat film RARANGKEN sebagai bahan pembahasan, khususnya mengenai perpaduan budaya Sunda, kepercayaan leluhur, dan unsur mistis dalam film horor nasional. Hadir sebagai pembicara, produser film RARANGKEN Wan Emily Sjahrir, penulis Fanny J. Poyk, Tsani Prilia, serta Ambu Rd Sonia Soerma. Diskusi dipandu oleh Mesya Siregar. Film RARANGKEN menjadi menarik untuk dibedah karena mengangkat kisah yang berakar pada budaya masyarakat Sunda. Di tengah maraknya film horor yang beredar di bioskop Indonesia, PAS Production mencoba menghadirkan pendekatan berbeda melalui karya yang menempatkan tradisi dan kepercayaan lokal sebagai bagian penting dari cerita. Menariknya, film produksi PAS Production tersebut ditayangkan melalui kanal YouTube, sebuah langkah alternatif di tengah kecenderungan rumah produksi yang umumnya menjadikan layar lebar sebagai tujuan utama distribusi film.
Budaya dan Mistik sebagai Daya Tarik Film Horor

Dalam diskusi tersebut, Fanny J. Poyk menilai perpaduan budaya dan unsur mistik memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton dari masa ke masa. Tema tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan cerita sekaligus membuka ruang untuk menggali sisi psikologis manusia.
Menurut Fanny, perkembangan teknologi dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam industri perfilman menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku film. Karena itu, sineas Indonesia perlu terus membaca perkembangan industri sekaligus memahami karakter dan minat penonton.
“Semua terletak pada pelaku perfilman Indonesia untuk melihat perkembangan perfilman yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia saat ini. Semoga dunia perfilman Indonesia semakin maju meski harus bersaing dengan situasi perfilman global,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kreativitas para sineas dalam menghadirkan karya yang memiliki karakter kuat agar film Indonesia tetap mampu bersaing di tengah perubahan industri hiburan.
Sementara itu, Wan Emily Sjahrir selaku produser RARANGKEN mengatakan, film horor akan terasa lebih menarik ketika memiliki keterkaitan dengan budaya. Menurutnya, pengangkatan budaya dari berbagai daerah dapat menjadi identitas sekaligus pembeda sebuah film. Meski mengusung cerita mistis, fondasi cerita tetap dapat dibangun dari tradisi dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat.
“Film itu harus ada pembedanya. Kalau sama, sebaiknya tak perlu buat, tapi nonton saja. Kalau ingin membuat film, harus out of the box, keluar dari kebiasaan, terutama dari unsur budayanya,” kata Wan Emily.
Rarangken dan Kepercayaan Leluhur Masyarakat Pasundan

Pembahasan mengenai budaya Sunda semakin mendalam ketika Ambu Rd Sonia Soerma menjelaskan makna Rarangken dalam kepercayaan masyarakat Pasundan. Menurutnya, budaya dapat menjadi nilai tambah bagi film horor karena menghadirkan latar cerita yang memiliki akar tradisi. Dalam film RARANGKEN, unsur tersebut diwujudkan melalui benda atau perhiasan yang diyakini memiliki kekuatan magis.
Ia menjelaskan, terdapat tata cara adat, ritual, serta pantangan tertentu yang berkaitan dengan benda tersebut. Kepercayaan mengenai larangan yang tidak boleh dilanggar menjadi salah satu unsur yang membangun misteri dalam cerita.
Dalam film tersebut, Rarangken digambarkan sebagai benda yang berkaitan dengan tradisi masyarakat di wilayah Majalengka. Pelanggaran terhadap pantangan saat membuka atau menyentuhnya dipercaya dapat membawa dampak buruk bagi orang-orang di sekitarnya, sebagaimana digambarkan dalam kisah film.
Melalui pendekatan tersebut, RARANGKEN tidak hanya menawarkan teror supernatural, tetapi juga memperkenalkan sisi lain kebudayaan Sunda yang mungkin belum banyak dikenal oleh penonton.
Tsani Prilia Ingin Mengenal Budaya Leluhur
Bagi Tsani Prilia, keterlibatannya dalam film RARANGKEN juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh budaya Sunda yang menjadi bagian dari latar belakang keluarganya. Artis muda tersebut mengaku belum memahami secara mendalam makna Rarangken sebelum terlibat dalam produksi film ini. Melalui proses tersebut, ia berharap dapat mempelajari tradisi leluhur sekaligus memahami nilai budaya yang diangkat dalam cerita. Keterlibatan Tsani memperlihatkan bahwa film dapat menjadi ruang pembelajaran budaya, tidak hanya bagi penonton, tetapi juga bagi para pelaku yang terlibat di dalam proses produksinya.
Di penghujung diskusi, keempat pembicara sepakat bahwa film horor yang dekat dengan budaya lokal memiliki potensi untuk memberikan nilai lebih bagi masyarakat. Selain menghadirkan hiburan, film juga dapat menjadi medium untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi penerus.
Sinopsis Film RARANGKEN
RARANGKEN merupakan film horor yang memadukan legenda Sunda, misteri warisan leluhur, dan rahasia kelam masa lalu. Film ini diproduseri oleh Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai executive producer dan R.G.H sebagai sutradara.
Cerita berpusat pada Ranti, yang diperankan Vanny Meisella. Ia kembali ke rumah tua peninggalan keluarganya bersama empat sahabatnya. Namun, suasana berubah mencekam setelah sebuah benda misterius bernama Rarangken dipindahkan dan memunculkan sosok Nyi Larang yang berkaitan dengan tragedi masa lalu.
Saat berusaha mengungkap asal-usul teror, Ranti menemukan bahwa legenda tentang Rarang menyimpan kebenaran yang selama puluhan tahun tersembunyi. Upayanya untuk menghancurkan Rarangken justru menghadirkan kejutan yang mengisyaratkan bahwa kutukan tersebut belum berakhir.
Dengan memadukan legenda lokal, misteri keluarga, dan teror supernatural, film ini mengangkat tema rahasia serta rasa bersalah yang diwariskan lintas generasi.
Melalui RARANGKEN, PAS Production menghadirkan pendekatan horor yang menempatkan budaya Sunda sebagai fondasi cerita. Karya ini sekaligus membuka ruang diskusi mengenai potensi tradisi lokal sebagai sumber inspirasi bagi perkembangan film horor Indonesia. (AA)
