Ribuan Jiwa Masih MengungsiAkibat Bencana Hidrometeorologi di Sumut. Pusdalops PB Sumut mencatat 3.554 jiwa masih menjadi pengungsi bencana Sumut pasca-bencana hidrometeorologi yang melanda provinsi tersebut pada akhir November 2025. Foto: Istimewa.
|| Kondisi Sumatera Utara pascabencana masih memprihatinkan. Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara (Sumut) melaporkan bahwa sebanyak 3.554 jiwa masih berada di pengungsian. Mereka adalah korban bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025 di provinsi tersebut, menyebabkan dampak signifikan bagi ribuan warga. Data terkini ini menunjukkan bahwa penanganan pasca-bencana masih terus berlangsung di beberapa wilayah terdampak.
Dilansir merdeka.com laporan yang diterima pada Minggu, 1 Maret 2026, mengonfirmasi bahwa ribuan pengungsi tersebut berasal dari 921 kepala keluarga (KK). Mereka tersebar di dua dari total 20 kabupaten/kota yang sebelumnya terlanda bencana alam. Kondisi ini menyoroti skala dampak bencana serta upaya berkelanjutan yang dibutuhkan untuk pemulihan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyatakan bahwa data ini merupakan pembaruan sementara. Data tersebut diperbarui per 1 Maret 2026 pukul 17.00 WIB, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memantau dan menginformasikan perkembangan situasi.
Situasi Terkini Pengungsi Bencana Sumut
Menurut catatan Pusdalops Sumut, ribuan pengungsi bencana Sumut saat ini terkonsentrasi di dua wilayah. Kabupaten Tengah menampung 2.564 jiwa, sementara Kabupaten Tapanuli Selatan menampung 990 jiwa. Konsentrasi pengungsi di dua kabupaten ini menunjukkan titik fokus utama penanganan darurat yang masih memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumut pada akhir tahun 2025 lalu telah menyebabkan dampak luas. Sebanyak 20 kabupaten/kota terlanda bencana alam, termasuk Kota Medan, Kota Tebingtinggi, Kota Binjai, Kota Padangsidimpuan, dan Kota Sibolga. Selain itu, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdangberdagai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kabupaten Pakpak Bharat juga turut merasakan dampaknya.
Sri Wahyuni Pancasilawati menambahkan bahwa berbagai upaya penanganan bencana telah diimplementasikan oleh masing-masing wilayah. Sejumlah pemangku kebijakan terkait juga turut serta dalam proses penanggulangan ini. Perkembangan lebih lanjut mengenai bencana dan data-data terkait akan terus diinformasikan kepada publik secara berkala.
Upaya Penanganan dan Pemulihan Pasca-Bencana
Pemerintah daerah bersama BPBD Sumut terus berkoordinasi untuk memastikan bantuan dan penanganan yang efektif bagi para pengungsi. Fokus utama saat ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan tempat tinggal sementara. Selain itu, aspek kesehatan dan psikososial para pengungsi juga menjadi prioritas dalam upaya pemulihan.
Langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana juga terus diperkuat di seluruh wilayah Sumut. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana serupa di masa mendatang. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang pemerintah daerah.
Kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat sendiri sangat krusial dalam mempercepat proses pemulihan. Diharapkan dengan sinergi yang kuat, para pengungsi dapat segera kembali ke kehidupan normal. Pemantauan data pengungsi dan wilayah terdampak akan terus dilakukan untuk memastikan penanganan yang komprehensif dan tepat sasaran.
[Sumatera Utara, Maret 2026/®harianposmetro.com]
