Oleh: Naek Pangaribuan, Wartawan Senior, Pemerhati Hukum dan Pers
Bicara idealisme dan kritis di negara yang sedang krisis, sepertinya sangat menarik. Pertanyaannya sederhana: ketika krisis datang, apakah kita memilih bertahan pada nilai, atau larut dalam situasi dan kondisi yang ada?
|| KRISIS selalu menguji lebih dari sekadar ketahanan ekonomi atau stabilitas politik. Ia menguji karakter. Dalam tekanan, banyak orang berubah haluan, kompromi dianggap jalan selamat, prinsip perlahan ditanggalkan. Di titik inilah idealisme menjadi barang langka.
Idealisme bukan sekadar mimpi besar atau kata-kata indah. Ia adalah kompas moral: penunjuk arah ketika jalan mulai kabur oleh kepentingan. Namun, dalam situasi krisis, kompas itu sering disimpan. Alasannya klasik, realitas tidak seindah teori. Padahal justru dalam kekacauan, idealisme dibutuhkan agar arah tidak sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan dan kepentingan sesaat.
Masalahnya, idealisme kerap dianggap naif. Orang yang bertahan pada prinsip dicap tidak realistis, bahkan menghambat “jalan keluar cepat”. Padahal sejarah menunjukkan, banyak perubahan besar justru lahir dari mereka yang menolak tunduk pada tekanan zaman. Mereka mungkin kalah dalam jangka pendek, tetapi menang dalam arti yang lebih dalam: menjaga integritas.
Krisis memang menggoda untuk memilih jalan pintas. Tapi jalan pintas seringkali mengorbankan nilai. Ketika itu terjadi secara massal, yang lahir bukan solusi, melainkan krisis baru yang lebih dalam, krisis kepercayaan.
Maka benar, idealisme di tengah krisis itu sulit dicari. Tapi justru karena langka, ia menjadi penentu. Di tengah gelap, satu nyala kecil lebih berarti daripada ribuan suara yang ikut arus.
Pertanyaannya sederhana: ketika krisis datang, kita memilih bertahan pada nilai, atau larut dalam keadaan?
Kritis di Tengah Krisis
Krisis sering datang tanpa aba-aba. Ia bisa menjelma dalam bentuk ekonomi yang goyah, kepercayaan publik yang runtuh, atau kebijakan yang kehilangan arah. Dalam situasi seperti itu, kepanikan kerap menjadi reaksi pertama. Namun, justru di titik inilah sikap kritis menjadi penentu.
Bersikap kritis bukan berarti menolak segalanya, melainkan menimbang dengan akal sehat. Ia menguji kebijakan, mempertanyakan keputusan, dan mencari kebenaran di tengah riuh kepentingan. Tanpa sikap kritis, krisis mudah dimanfaatkan, oleh mereka yang ingin mengambil keuntungan dari kekacauan.
Sebaliknya, krisis juga bisa menjadi cermin. Ia memaksa kita melihat kelemahan yang selama ini diabaikan. Dari sana, sikap kritis menemukan ruangnya: memperbaiki, bukan sekadar menghakimi; membangun, bukan sekadar menyalahkan.
Krisis tidak selalu menghancurkan. Ia bisa menjadi titik balik, asal dihadapi dengan pikiran yang kritis dan keberanian untuk berubah. ***
[Jakarta, 27 Maret 2026/®harian posmetro.com]
