Rencana IPO tersebut berjalan beriringan dengan ambisi Bank Jakarta untuk naik kelas ke kelompok KBMI 3 dengan modal inti Rp14-70 triliun. Adapun, posisi Juni 2026 modal inti bank secara individu sebesar Rp10,97 triliun, sedangkan modal inti konsolidasi sebesar Rp 12,59 triliun. “Insya Allah ke JBMI 3, mudah-mudahan,” ujar Agus.
Foto/Ist.
JAKARTA, HARIAN POSMETRO.com || PT. Bank DKI (Bank Jakarta) tengah mematangkan rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) yang ditargetkan dapat terealisasi pada semester I-2027. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat tata kelola sekaligus mendorong Bank Jakarta naik kelas menjadi bank kelompok KBMI 3.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, perseroan tetap menyiapkan rencana IPO yang sebelumnya telah disampaikan kepada publik. Menurut dia, pencatatan saham di bursa bukan semata-mata ditujukan untuk memperoleh tambahan modal, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pengawasan dan tata kelola bank.
“IPO tetap kami siapkan. IPO itu untuk apa? Agar pengawasan publiknya akan lebih ketat, lebih terbuka, transparan, tata kelola jadi lebih baik,” ujar Agus kepada Investor Daily dikutip Selasa (15/9/2026).
Dia mengatakan, keterbukaan setelah menjadi perusahaan terbuka diharapkan dapat mendorong perbaikan tata kelola dan manajemen risiko Bank Jakarta. Dengan fundamental yang semakin kuat, kualitas portofolio kredit dan struktur pendanaan juga diharapkan membaik sehingga pada akhirnya menopang profitabilitas perseroan.
Rencana IPO tersebut berjalan beriringan dengan ambisi Bank Jakarta untuk naik kelas ke kelompok KBMI 3 dengan modal inti Rp14-70 triliun. Adapun, posisi Juni 2026 modal inti bank secara individu sebesar Rp10,97 triliun, sedangkan modal inti konsolidasi sebesar Rp 12,59 triliun. “Insya Allah ke JBMI 3, mudah-mudahan,” ujar Agus.
Agus mengungkapkan, strategi transformasi Bank Jakarta tidak hanya berfokus pada permodalan, tetapi juga pembenahan fundamental bisnis. Salah satu prioritas utama adalah meningkatkan porsi dana murah atau current account and savings account (CASA). Hingga semester I-2026, CASA Bank Jakarta disebut telah mendekati 50%.
Perseroan memilih mempertahankan target CASA sekitar 50% hingga akhir tahun sebelum meningkatkan target secara bertahap. “Targetnya 50% saja dulu. Saya nggak mau muluk-muluk. Kalau bisa 50% itu sudah bagus,” imbuh dia.
Menurut Agus, penguatan CASA akan diarahkan terutama dari nasabah bisnis karena sifat dananya lebih transaksional, dana dari pelaku usaha akan terus berputar mengikuti aktivitas bisnis. Karena itu, Bank Jakarta akan mengejar dana murah dari ekosistem bisnis di Jakarta, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga UMKM.
Agus menilai, ekosistem Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi salah satu pasar utama yang dapat digarap perseroan. Dengan APBD Jakarta yang mencapai sekitar Rp81 triliun, Bank Jakarta melihat terdapat ruang untuk memperbesar peran dalam transaksi keuangan pemerintah daerah sekaligus menyalurkannya ke ekosistem terkait.
“Ekosistem utamanya Pemprov DKI Jakarta, dengan APBD Rp81 triliun, kalau kita bisa grab katakanlah 20%, itu sudah Rp16 triliun,” jelas dia.*
redaksihpm*
