Oleh: Naek Pangaribuan, Wartawan Senior, Pemerhati Hukum dan Pers
Dalam konteks kenaikan pangkat Kapolda Metro Jaya menjadi bintang tiga, bukan hanya soal penghormatan kepada individu, tetapi refleksi atas meningkatnya status strategis institusi Polda Metro Jaya dalam arsitektur keamanan nasional.
|| YA , soal kenaikan pangkat Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Asep Edi Suheri Rabu lalu, menjadi Komisaris Jenderal Polisi (Komjen) atau jenderal bintang tiga bukan sekadar perubahan simbolik dalam struktur kepangkatan Polri. Di balik kenaikan pangkat tersebut, terdapat pesan politik keamanan yang kuat, Jakarta kini dipandang sebagai episentrum keamanan nasional yang membutuhkan desain kepemimpinan baru dan struktur komando yang lebih strategis.
Setelah Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Deddy Suryadi resmi naik pangkat menjadi Letnan Jenderal (Letjen) pada 26 Maret 2026 lalu, saya sempat berpikir kapan Kapolda Metro Jaya akan mengalami penyesuaian serupa? Kini jawabannya telah datang. Jabatan Kapolda Metro Jaya resmi naik kelas menjadi jabatan komisaris jenderal.
Langkah ini dapat dipahami sebagai bentuk penyesuaian terhadap kompleksitas Jakarta sebagai kota global sekaligus pusat gravitasi politik, ekonomi, dan keamanan Indonesia.
Sebagai ibu kota negara dan pusat pemerintahan nasional, Jakarta memiliki beban pengamanan yang berbeda dibanding daerah lain. Di wilayah hukum Polda Metro Jaya terdapat Istana Presiden, DPR/MPR, kantor kementerian, kedutaan besar negara sahabat, objek vital nasional, pusat bisnis, hingga pusat aktivitas diplomatik internasional. Hampir seluruh denyut stabilitas nasional bertemu di Jakarta.
Karena itu, ancaman keamanan yang muncul juga semakin kompleks. Bukan hanya kriminalitas jalanan, tetapi juga kejahatan siber, perdagangan narkoba, terorisme, konflik sosial, hingga pengamanan demonstrasi besar dan agenda internasional. Bahkan stabilitas investasi nasional sering kali sangat dipengaruhi situasi keamanan di Jakarta.
Dalam konteks itu, kenaikan pangkat Kapolda Metro Jaya menjadi bintang tiga bukan hanya soal penghormatan kepada individu, tetapi refleksi atas meningkatnya status strategis institusi Polda Metro Jaya dalam arsitektur keamanan nasional.
Komjen Pol. Asep Edi Suheri sendiri bukan figur asing dalam dunia reserse dan keamanan nasional. Lulusan Akpol 1994 itu memiliki rekam jejak panjang di bidang penegakan hukum, mulai dari Kapolres, Dirtipid Siber Bareskrim, hingga Wakabareskrim Polri. Pengalamannya memimpin Satgas TPPO dan Satgas P3GN memperlihatkan kapasitasnya menghadapi kejahatan modern yang lintas wilayah dan lintas negara.
Penghargaan Brevet Kehormatan Paspampres “Setia Waspada” yang diterimanya pada April 2026 juga menunjukkan adanya pengakuan terhadap perannya dalam pengamanan strategis nasional.
Namun, tantangan terbesar ke depan bukan semata-mata soal pangkat atau struktur organisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana penguatan status Kapolda Metro Jaya ini benar-benar mampu meningkatkan efektivitas keamanan publik dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Sebab realitas di lapangan menunjukkan tingkat kriminalitas di Jakarta dan wilayah aglomerasi sekitarnya masih tinggi, baik secara kualitas maupun kuantitas. Masyarakat masih menghadapi ancaman begal, pencurian kendaraan, tawuran, peredaran narkoba, kejahatan digital, hingga persoalan kemacetan yang berdampak pada keamanan sosial
Saya yang hampir tiga dekade meliput dinamika keamanan di Polda Metro Jaya, melihat kenaikan pangkat ini sebagai momentum penting. Ada harapan besar agar wajah baru keamanan nasional benar-benar lahir dari Jakarta: keamanan yang modern, humanis, responsif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Sebab pada akhirnya, keamanan ibu kota bukan hanya tentang menjaga gedung-gedung negara, tetapi menjaga rasa aman masyarakat yang hidup di dalamnya.
Selamat dan Sukses Pak Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri!
[Jakarta, 18 Mei 2026/®harian posmetro.com]
