Oleh: Naek Pangaribuan, Wartawan Senior, Pemerhati Hukum dan Pers
Dewan Pers, organisasi profesi, perusahaan pers, Basarnas, TNI, Polri dan lembaga terkait perlu duduk bersama menyusun protokol keselamatan khusus bagi wartawan yang meliput bencana dan wilayah berisiko tinggi. Setiap penugasan harus disertai pemetaan risiko, briefing keselamatan, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, jalur evakuasi dan mekanisme penghentian peliputan apabila situasi membahayakan jiwa.
ADA kabar yang membuat dada sesak, lima jurnalis dan tiga kru kapal hilang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Mereka berangkat membawa tugas, kamera, catatan, dan harapan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Mereka pergi mencari berita tentang aktivitas gunung api. Namun kini, justru nama-nama merekalah yang disebut dalam doa dan pencarian.
Lima jurnalis itu adalah M. Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA Biro Banten, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus atau Daus dari Anadolu Agency, dan Donal, jurnalis freelance. Bersama mereka terdapat tiga orang kru kapal, yakni kapten Warta, ABK Surakman, dan guide Heriyanto.
Delapan orang itu berada dalam satu speedboat yang berangkat dari Dermaga Pagedogan, Carita, Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Komunikasi terakhir dilaporkan terjadi sekitar pukul 14.42 WIB.
Setelah itu, sunyi. Tidak ada lagi kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada kepastian. Yang tersisa adalah kecemasan keluarga, kegelisahan rekan-rekan seprofesi dan pertanyaan besar tentang keberadaan mereka. Dalam situasi seperti inilah setiap menit menjadi sangat berharga.
Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi kepada Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) untuk segera melakukan pencarian. Menurut keterangan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, instruksi itu diberikan sejak rombongan tersebut dilaporkan hilang kontak.
Sebanyak 11 kapal gabungan kemudian dikerahkan untuk melakukan pencarian. Ini tentu merupakan langkah penting. Negara tidak boleh membiarkan delapan warganya yang hilang di tengah laut dicari dengan kekuatan seadanya.
Namun, yang lebih penting sekarang adalah bagaimana operasi pencarian tersebut terus dioptimalkan sampai ditemukan titik terang. Jangan berhenti pada pencarian. Temukan mereka.
Itulah harapan paling sederhana dari keluarga, sahabat, perusahaan pers, organisasi profesi dan seluruh insan pers Indonesia.
Yudhis, Bukan Sekadar Nama dalam Daftar
Di antara lima jurnalis yang hilang itu, ada satu nama yang terasa sangat dekat dengan kami, Yudhistiro Pranoto, yang akrab dipanggil Yudhis. Sebelum bergabung dengan iNews, Yudhis merupakan wartawan foto atau fotografer di media cetak Harian Jakarta pada 2003 silam.
Bagi sebagian orang, nama itu mungkin hanya satu dari lima nama yang diberitakan media. Tetapi bagi teman-teman seperjuangannya, Yudhis bukan sekadar nama.
Ia adalah sahabat. Teman bekerja. Teman berburu berita. Teman yang pernah sama-sama merasakan kerasnya kehidupan sebagai wartawan media cetak.
Di grup WhatsApp eks Harian Jakarta, kabar mengenai hilangnya Yudhis menjadi pembicaraan hangat. Pertanyaan yang muncul bukan lagi soal berita apa yang sedang ia liput, melainkan satu pertanyaan sederhana yang sangat manusiawi: “Bagaimana perkembangan pencarian Yudhis?”
Pertanyaan itu memperlihatkan satu hal penting, di balik profesi jurnalistik terdapat ikatan persaudaraan yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Karena itu, doa bukan hanya untuk Yudhis. Doa yang sama harus kita panjatkan untuk M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Daus dan Donal, serta Warta, Surakman dan Heriyanto.
Delapan orang. Delapan kehidupan. Delapan keluarga yang sedang menunggu. Mereka pergi membawa tugas, bukan mencari bahaya.
Jurnalis dan Risiko
Wartawan perang masuk ke daerah konflik. Wartawan kriminal mendatangi lokasi kejahatan. Wartawan bencana mendekati wilayah terdampak. Wartawan lingkungan turun ke lokasi kerusakan alam.
Tetapi keberanian seorang jurnalis tidak boleh diterjemahkan sebagai keberanian untuk mempertaruhkan nyawa tanpa perhitungan.
Ada perbedaan antara berani menjalankan tugas dan mengabaikan keselamatan dalam menjalankan tugas.
Peliputan Gunung Anak Krakatau tentu memiliki tantangan tersendiri. Gunung api adalah objek alam yang dinamis. Kondisi laut juga tidak selalu bersahabat. Cuaca dapat berubah. Gelombang dapat meninggi. Abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang dan aktivitas pelayaran.
Karena itu, keselamatan seharusnya menjadi bagian dari perencanaan jurnalistik sejak sebelum wartawan berangkat.
Bukan setelah Terjadi Musibah
Dewan Pers juga telah mengingatkan bahwa tidak ada berita yang sebanding dengan harga sebuah nyawa manusia.
Pesan tersebut harus menjadi refleksi bersama. Berita penting. Informasi publik penting. Kehadiran wartawan di lokasi bencana juga penting. Tetapi nyawa manusia jauh lebih penting. Negara sudah bergerak, tetapi pencarian harus maksimal.
Kabar bahwa Presiden Prabowo langsung menginstruksikan KSAL untuk mengerahkan kekuatan pencarian patut diapresiasi. Begitu pula keterlibatan Basarnas, TNI AL, Polri, BMKG, PVMBG dan potensi SAR lainnya.
Sebelas kapal gabungan disebut telah dikerahkan, antara lain KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, KRI Lepu-861, KAL Anyer 1-3-64, KAL Pohawang I-3-30, RBB Peucang Lanal Banten, RHIB SAR 02 Banten, RHIB SAR 02 Lampung, KN SAR Tetuka-247, KN SAR Basudewa-224 serta KP Sanjaya-7017.
Besarnya kekuatan yang dikerahkan menunjukkan bahwa pencarian ini bukan perkara kecil. Namun keluarga dan rekan-rekan mereka tentu tidak membutuhkan sekadar angka jumlah kapal.
Mereka membutuhkan hasil. Karena itu, koordinasi lintas lembaga harus benar-benar berjalan dalam satu komando operasi yang efektif.
Data terakhir mengenai lokasi komunikasi, pola pergerakan kapal, kondisi cuaca, arus laut, karakteristik kapal, kemungkinan perubahan posisi akibat arus dan angin, serta informasi dari kapal-kapal yang melintas harus terus diperbarui dan dianalisis.
Pencarian tidak boleh hanya mengandalkan penyisiran secara konvensional. Teknologi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Informasi radar, citra satelit, pemantauan udara, sistem komunikasi maritim, laporan kapal yang melintas, hingga analisis arus laut perlu dipadukan.
Sebab laut tidak memiliki batas pencarian yang sederhana. Objek yang hilang di satu titik dapat bergeser jauh akibat arus dan kondisi alam.
Jangan biarkan keluarga menunggu dalam ketidakpastian Bagi keluarga korban, kehilangan kontak bukan sekadar istilah dalam laporan operasi SAR.
Hilang kontak berarti malam tanpa tidur. Telepon yang terus diperiksa. Pesan WhatsApp yang ditunggu. Pintu rumah yang berharap terbuka. Dan doa yang tidak putus-putus.
Dalam kondisi seperti ini, komunikasi pemerintah dan tim SAR kepada keluarga menjadi sangat penting. Keluarga harus memperoleh informasi yang jelas, terukur dan diperbarui secara berkala.
Jangan sampai keluarga justru mendapatkan informasi pertama dari media sosial atau pemberitaan yang belum terverifikasi.
Transparansi bukan berarti membuka seluruh detail operasi yang dapat mengganggu pencarian. Tetapi perkembangan yang aman untuk disampaikan harus diberikan secara rutin.
Keluarga berhak mendapatkan kepastian mengenai apa yang sedang dilakukan negara untuk menemukan orang yang mereka cintai.
Pelajaran Besar bagi Dunia Jurnalistik
Peristiwa ini semestinya tidak berhenti sebagai berita kehilangan lima jurnalis. Ia harus menjadi momentum untuk memperkuat keselamatan kerja jurnalistik di Indonesia.
Perusahaan pers harus mempunyai protokol keselamatan ketika mengirim wartawan ke daerah bencana.
Wartawan harus mendapatkan briefing sebelum berangkat. Peralatan keselamatan harus tersedia. Koordinasi dengan otoritas setempat harus dilakukan. Informasi mengenai zona bahaya harus dipahami.
Dan yang tidak kalah penting, keputusan untuk menghentikan peliputan apabila kondisi menjadi terlalu berbahaya harus dihormati.
Tidak boleh ada budaya: “Kalau tidak berani, jangan jadi wartawan.” Kalimat seperti itu sudah waktunya ditinggalkan.
Profesionalisme wartawan justru terlihat ketika ia mampu menilai risiko, mematuhi prosedur dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah mampu menjalankan tugas dengan perhitungan. Dari tragedi menjadi evaluasi
Jika delapan orang ini nantinya ditemukan dan kita semua harus terus berharap mereka ditemukan dalam keadaan selamat, maka evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh.
Bagaimana perencanaan keberangkatan? Bagaimana koordinasi dengan otoritas? Bagaimana kondisi kapal? Bagaimana alat komunikasi? Apakah posisi kapal dapat dipantau? Apakah zona peliputan sesuai dengan ketentuan keselamatan?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Jika ternyata terdapat kekurangan dalam prosedur, maka perbaikilah. Jika ada kelemahan sistem, perkuatlah. Jika ada kekosongan regulasi, lengkapi.
Sebab keselamatan wartawan bukan hanya persoalan perusahaan pers. Ini juga menyangkut ekosistem pers nasional.
Jangan Sekadar Menemukan, Selamatkan dan Benahi Sistem
Pada akhirnya, operasi pencarian ini tidak boleh berhenti pada hitungan berapa kapal yang dikerahkan atau berapa luas wilayah yang sudah disisir. Ukuran keberhasilannya adalah delapan manusia itu ditemukan dan diselamatkan.
Karena itu, seluruh kekuatan SAR harus terus bekerja dengan koordinasi yang semakin terpadu, memanfaatkan teknologi, data cuaca dan arus laut, komunikasi maritim, pemantauan udara maupun informasi masyarakat. Setiap kemungkinan harus diperhitungkan dan setiap informasi harus segera ditindaklanjuti.
Namun setelah mereka ditemukan dan kita semua terus berdoa agar mereka ditemukan dalam keadaan selamat peristiwa ini tidak boleh berlalu begitu saja.
Dewan Pers, organisasi profesi, perusahaan pers, Basarnas, TNI, Polri dan lembaga terkait perlu duduk bersama menyusun protokol keselamatan khusus bagi wartawan yang meliput bencana dan wilayah berisiko tinggi. Setiap penugasan harus disertai pemetaan risiko, briefing keselamatan, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, jalur evakuasi dan mekanisme penghentian peliputan apabila situasi membahayakan jiwa.
Sebab profesionalisme jurnalistik bukan hanya keberanian mendapatkan berita, tetapi juga kemampuan memastikan wartawannya pulang dengan selamat.
Hari ini kita sedang menunggu satu kabar. Bukan berita politik. Bukan berita ekonomi. Bukan berita sensasional.
Kita hanya menunggu kabar bahwa Yudhis, Bagus, Ari, Daus, Donal, Warta, Surakman dan Heriyanto telah ditemukan dan selamat.
Mereka berangkat ke laut untuk mencari berita. Kini, negara, dunia pers dan seluruh masyarakat harus bersama-sama mencari mereka.
Temukan mereka. Selamatkan mereka. Setelah itu, benahi sistem agar tidak ada lagi wartawan yang harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk menghadirkan berita bagi kita.
Karena berita boleh terlambat, tetapi keselamatan manusia tidak boleh dikorbankan. Semoga mereka cepat ditemukan!*
[Jakarta, 11 September 2026®redaksiharianposmetro.com]*
